Pendidikan Tanpa Sekolah (Hikmah Corona)

oleh : Muhammad Ali, S.Pd.
( Bidgar Jam'iyyah PC Pemuda Persis Cimahi Utara)


Tidak kita bahas disini terkait mewabahnya covid-19, karena sudah banyak sekali informasi bertebaran dimana-mana. Adapun dalam kajian ini ialah mencermati salah satu dampak dari covid-19 di bidang pendidikan.
Sekolah diliburkan! Semua anak dirumahkan!
Hal ini karena setiap orang diharapkan bisa memutus mata rantai penyebaran virus melalui social distancing. Lalu apa yang terjadi pada dunia pendidikan?

1. Berduyun-duyun “sistem sekolah” berpindah ke rumah, melalui model pembelajaran jarak jauh.
2. Keluhan orangtua kesulitan mendampingi anaknya belajar.
https://metro.tempo.co/read/1324072/orang-tua-mengeluh-program-belajar-di-rumah-diperpanjang/full&view=ok
3. Keluh kesah anak terkait tugas yang menumpuk.
https://tirto.id/segudang-masalah-belajar-dari-rumah-karena-corona-covid-19-eGqQ

Memang ini pengalaman pertama bagi semua orang, munculnya virus ditahun-tahun sebelumnya tidak sampai harus mengkarantina satu negeri, tapi ini berbeda. Negara maju pun tak bisa menghindar, bahkan hari ini Amerika menjadi peringkat 1 jumlah positif covid-19, dikabarkan hari ini ada sekitar 300.000 kasus positif. Adapun Negara kita Indonesia saat ini sudah lebih dari 2.000 kasus positif.
Tentunya hal itu mengguncang berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Disinilah kita mulai pembahasannya.

Pertanyaan pertama, benarkah dunia pendidikan yang terguncang ataukah dunia persekolahan?
Apa bedanya? Ini lah yang menjadi permasalahan kita, memandang bahwa sekolah adalah tempat utama pendidikan. Sehingga ketika hari ini jutaan anak “dirumahkan” tidak bisa berangkat ke sekolah, maka seolah pendidikan pun terhenti.
Untuk memahaminya mari kita urai sedikit makna pendidikan dan makna sekolah.

#Sekolah mulanya adalah mengisi waktu luang
Sejarah asal-usul sekolah dan istilahnya dimulai pada zaman Yunani Kuno. Dahulu, orang lelaki Yunani dalam mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi sesuatu tempat atau seseorang yang bijaksana untuk bertanya atau mempelajari hal-hal maupun perkara yang mereka rasa perlu diketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah scola, skhole, scolae atau schola. Keempat-empatnya memiliki arti yang sama, yaitu “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.”

#Memaknai_Pendidikan
Secara bahasa pendidikan yang dalam bahasa Arab disebut “tarbiyah” memiliki tiga asal makna. Makna pertama tarbiyah bermakna az-ziyadah dan an-namâ` yang berarti bertambah atau tumbuh. Makna kedua tarbiyah adalah nasya`a dan tara’ra’ah yang bermakna tumbuh dan berkembang. Dan makna ketiga, tarbiyah bermakna aslaha yang berarti memperbaiki. Dengan begitu maka pendidikan atau tarbiyah adalah menjaga supaya manusia tetap dalam fitrahnya sebagaimana ia dilahirkan supaya tidak tersusupi oleh hawa nafsu yang dihembuskan setan. Oleh karenanya, pendidikan tidak terikat waktu dan tempat. Pendidikan bisa tanpa sekolah!

Disinilah hikmah corona itu muncul, saat semua anak tidak ke sekolah, lalu bagaimana proses pendidikan berjalan?

#Pendidikan_Keluarga
Dalam Al-Quran banyak sekali kisah tentang para nabi yang mendidik kaumnya, juga para ayah mendidik anak-anaknya sebagaimana Ibrahim mendidik Ismail, Ibrahim mendidik Ishaq, Ishaq mendidik Ya’kub, Ya’kub mendidik kedua belas anaknya termasuk di antaranya Yusuf a.s. Tak luput pula, bagaimana Allah menerangkan tentang pendidikan yang diberikan oleh Maryam kepada anaknya Isa a.s. Juga Hajar kepada anaknya Ismail a.s. Yang bukan nabi, seperti seorang ayah Luqmanul Hakim mendidik anaknya, begitu pula Keluarga Imran.

Jangan anggap belajar hanya bisa disekolah! Berikut ini Tempat Belajar Zaman Nabi:
1. Darul Arqam; rumah milik al arqam bin abil arqam
2. Rumah Nabi
3. As-Suffah; ruang khusus di masjid
4. Darul Qurra; pertamakali dirumah milik Makhramah bin Naufal, khusus belajar membaca Al-Quran.
5. Kuttab; tempat belajar bagi anak kecil
6. Masjid
7. Rumah Sahabat Nabi Saw.

Melihat berbagai tempat belajar pada zaman nabi, mengisyaratkan kita bahwa belajar tidak wajib disatu bangunan khusus (saat ini kita sebut sekolah).Yang menjadi tantangan ternyata bukan berpindahnya tempat belajar, saat virus corona mewabah. Bukan sekolah pindah kerumah. Tapi jiwa belajar kita atau anak-anak kita terbatasi hanya di sekolah. Mindset dan motivasi belajar yang kuat, sesungguhnya akan mendobrak hal itu.
Untuk kawan-kawan yang masih menjadi siswa, yakinlah jangan terhambat belajar hanya karena virus corona, atau hanya karena tidak bisa ke sekolah, atau hanya karena tidak ada gurunya. Ingatlah bahwa surat pertama yang Allah Swt turunkan kepada Nabi Muhammad Saw yakni “bacalah!” , mengajarkan bahwa dorongan diri sendirilah yang harus dibangkitkan. Seluruh kendala fasilitas tersebut akan musnah, saat bergelora jiwa pembelajar. Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan!

Untuk rekan-rekan pemuda Persis, hari ini telah kita buktikan, meskipun virus corona menghalangi pertemuan di majelis ilmu, tapi dengan media yang kita mampu kita masih bisa menimba ilmu. Jika jiwa belajarnya tetap terjaga, justru keterbatasan lah yang akan membangkitkan semangat menuntut ilmu. Oh ya, jangan pernah melupakan salah satu pahlawan dan tokoh sejarah bangsa, Haji Agus Salim yang memilih pendidikan rumah tanpa sekolah.
Metode pendidikan yang diterapkan Agus Salim di rumah sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Anak-anaknya sebagai “murid” tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dibiasakan secara santai, seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari.

#Menjadi Cerdas Tak Harus di Kelas
Salah satu kebiasaan menyenangkan sekaligus mencerdaskan yang diterapkan Agus Salim di keluarga adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia, balita mereka sudah lancar baca-tulis dengan banyak bahasa.
Maka jangan heran jika anak-anak Salim sudah melahap banyak bacaan berbahasa asing di usia yang masih sangat dini. Theodora Atia alias Dolly, misalnya, pada umur 6 tahun sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister (100 Tahun Haji Agus Salim, 1996).

Comments